Sunday, May 26, 2013

ENJOYING BISEANG LABBORO (BISLAB), Desa Samangki, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan - Indonesia

Tujuan hari ini masih seputar Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tepatnya ‘Biseang Labboro’ a.k.a Bislab. Lokasinya terletak kira-kira 5km sebelah timur Taman Nasional Bantimurung. Memang tak ada papan informasi yang menunjukkan tempatnya meskipun jalan menuju tempat itu cukup tersembunyi. Jadi kamu kudu bertanya sama penduduk jika sudah sampai di 'Maros Waterboom' karena daerah ini berdekatan. Beberapa kelompok mapala  dan sispala tentu tak asing dengan tempat yang indah itu: pemandangan alam yang tak biasa, aliran sungai  beriak dengan ornamen bebatuan besar di tengah-tengahnya, kupu-kupu yang lebih jinak daripada merpati, tebing-tebing tinggi, dan gua-gua yang tersembunyi. Kok tahu? Karena sudah dua kali aku ke sana.  So, this is the story about today's trip:

loading … please wait ...
 ****

“Jalan mi kalian. Kali ini ane skip, gan …” tulis Patrick dalam sms yang ditujukannya pada semua anak-anak KPA-Pintas lewat hp-ku.

Ku telpon, nanya alasan, ternyata dia baru bangun dan masih butuh tidur padahal jam sudah menunjukkan pkl. 12 siang. Hebat ‘kan?! Kuda Nil saja kalah. Sebagai sobat yang baik, aku menyayangkan kehilangan dirinya … padahal dia masih muda dan masih banyak keindahan dunia ini yang belum dinikmatinya. Semoga amal ibadahnya diterima, … ups, sorry!  Bro yang satu ini masih ready stock dan saat ini sedang mempersiapkan masa depannya sebagai eksekutif muda di bidang teknologi pertanian. Betul ‘kan, Pat?!

Okelah, beberapa teman yang ikut perjalanan ke Rammang-Rammang memang nggak ikut hari ini termasuk pentolan Pintas: Matuh, Patrick, dan Mariconk. Kekurangan personil, bukan berarti kurang seru, tetapi pasti ada yang hilang atau minimal tak sama jika mereka hadir. Mereka semua merupakan pribadi yang unik. Berbeda dengan Matuh dan Patrick, Mariconk adalah seorang wanita yang sampai kini gak aku mengerti kepribadian dan keberadaannya. Yang jelas cewek ini paling hobby mencubit, memukul, dan menendang. Partner sparingnya selalu Agus.

Dengan mengendarai motor, kami melalui jalan poros Makassar-Maros, kemudian berbelok ke Bantimurung (kalo kamu nggak tau Bantimurung, sungguh ter-la-lu). Kurang lebih sejam perjalanan dengan kecepatan rata-rata 60km/h, kami tiba di pintu menuju lokasi dan harus parkir di kolong rumah warga setempat dengan ongkos parkir Rp. 2000,-. For your information, kebanyakan rumah tradisional masyarakat di Sulawesi Selatan merupakan rumah panggung dan sudah tentu punya basement parkir kayak Mall. Keren kan?!

Setelah itu, kami harus berjalan kaki melalui jalan setapak yang kebanyakan diperkeras dengan batu-batu kali. - Bea masuk, Rp. 3000,-. Karena terlalu banyak urusan (mulai dari pake topi sampai mempersiapkan kamera) maka di awal perjalanan aku jadi the last man walking. Pada saat seperti itu aku merasa terasing, sepi, dan sendiri. Bayangkan jika anda ditinggal tanpa ada yang menemani: pikiran akan dipenuhi oleh halusinasi yang nggak-nggak! Tetapi daripada kalian membaca curhatku yang gak penting ini, mending kita lanjuuutttt ....

Nah, hal itu tak berlangsung lama. Ternyata Markos, Memet, Elsa, dan Ciwind telah menunggu dan pasti bahagia berjalan bersamaku karena aku membawa kamera yang selalu siap sedia mengabadikan pose-pose terbaik mereka. Soalnya selama ini, mereka adalah  'model' yang sudah sering malang melintang di media sosial meskipun baru sebatas album "behind the scene" di akun facebook-ku (:hammer). Dengan hati riang - gembira kami menerobos area hutan lindung Pattunuang tersebut, menelusuri setiap liku sungainya, dan tak lupa, foto-foto.




Setelah berjalan kurang lebih setengah jam, kami harus menyeberangi sungai. Akan tetapi karena satu-satunya jembatan di situ sudah lenyap sebagian, terpaksa kami harus mencari daerah yang dangkal dan bisa dilalui tanpa resiko terbawa arus, dimakan buaya,  terlilit anaconda, atau ditemukan oleh para orcs (tokoh jahat dalam Lord of The Ring). Namun di tengah usaha kami mencari, tiba-tiba terdengar suara aneh namun familiar (tuck-tuck-tuck). Seseorang telah mengeluarkan gas yang  tersimpan dalam perutnya (gak bermaksud nuduh apalagi fitness tapi pas kejadian, aku lihat bro Memet tertawa mencurigakan). Hal ini sebenarnya wajar tapi baunya itu loh man, no offense, bikin mual! Bahkan, beberapa tumbuhan di situ langsung berubah warna, saking cetar membahananya.

Saat menyeberangi sungai, semua orang saling berpegangan tangan, kecuali aku, memegang kamera ^__^ (Conk, seandainya kau hadir di sini ....). Btw, unsur kehati-hatian sangat dominan ketika menyebrang sungai ini karena tidak ada yang membawa webbing sebagai safety. Dan karena airnya agak keruh maka dasar sungai tak terlihat. Lagian, batu-batuan di dasar sungai dapat saja membuat cedera. Untunglah, aku tergolong sakti dalam hal ini (wekkks).

Singkat cerita, kami berhasil menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar 20 meter. Tak jauh dari situ, kita akan melihat sebuah batu besar yang sekilas menyerupai perahu. Karena batu tersebut lah maka daerah ini dinamakan Biseang Labboro', yang berarti perahu yang karam/terdampar: alkisah, dulu ada seorang saudagar Cina yang datang melamar gadis dari desa Samangki. Namun apa daya, his marriage proposal got rejected. So, saudagar tersebut mengutuk perahunya menjadi batu (kalo saya yang ditolak, maka H*nda Blade akan kukutuk jadi Sukhoi SU-30 MK2, wkwkwkwkw). Nah, sebenarnya, kami berniat untuk membuat parameter di situ. Tetapi beberapa kelompok mapala sudah mendirikan tenda dan menjadikannya lokasi diksar untuk panjat tebing, kami terpaksa mencari lokasi lain. So we keep move on ...










Arnold,  Memet, dan Markos yang berada paling depan mulai mendeteksi lokasi terbaik untuk menikmati Bislab sambil berenang. Begitu ketemu, para pencinta alam ini langsung buka baju dan berendam di sungai diikuti Ronald dan Rishet. Aku pun tergoda untuk berkubang tetapi ketika mencari second-pack dalam tas, aku cuma menemukan seperangkat baju dalam dan kolor ijo ^__^ (tepok jidat). Pakean ganti pasti tertinggal entah dimana. Nggak jadi deh menikmati sejuknya sungai Bislab.
 
   




Pkl. 2.30 siang, rasa lapar sudah memanggil. Agus mulai membagikan nasi bungkus lalu menyalakan kompor kupu-kupu untuk memasak kopi. Setelah kenyang akan rahmat Tuhan berupa makanan, segelas kopi benar-benar menyempurnakan hari. Life is good! Aku kembali mempersiapkan kamera dan memotret keindahan Bislab. Kenarsisan teman-teman juga mengundangku mengabadikan moment bahagia ini. Beberapa spot di sini benar-benar awesome. Bagi kamu yang depresi atau stress berat, tempat ini paling rekomended.

Warning: karena materi di tempat ini lebih berkaitan dengan susur sungai, maka tempat ini gak baik dikunjungi pada musim penghujan karena arus akan semakin deras dan sungai menjadi semakin dalam. Anda juga disarankan untuk tidak naik ke atas batu Biseang Labboro' karena menurut cerita, di atas sana ada 'penunggunya' berupa ular berbisa (meski mungkin cuma mitos doang tapi gak ada salahnya 'kan menghormati kearifan lokal).

Mengingat perjalanan kembali ke tempat parkir dan kembali ke Makassar makan waktu sekitar 2 jam sementara cuaca seakan tak bersahabat maka diputuskan untuk menyudahi trip hari ini. Kami bergegas ngepack perlengkapan dan tak lupa membersihkan serta merapikan tempat sekitar seperti semula sehingga tak ada jejak tertinggal yang menandakan bahwa kami pernah ada di sana. Wise quote Indian kuno berbunyi, "Treat the earth well: it was not given to you by your parents, it was loaned to you by your children. We do not inherit the earth from our ancestors, we borrow it from our children." Yang artinya, "Kalo kamu nggak bisa membersihkan, jangan buang sampah sembarangan" ... (apa omong!).
  
Dan inilah foto-foto keindahan ‘Biseang Labboro’ a.k.a Bislab:



foto ini aku ambil pada saat pertama kali ke sini


*******

And this is me, the author and the photographer:




----------------------------------------------------------------------------------

I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site

----------------------------------------------------------------------------------
Thanx to:

  1. Keluarga besar Komunitas Pencinta Alam - Pintas, Paroki St. Paulus-Tello Makassar.
  2. Member of Group : Arnoldus Dp, Nugraha 'Memet' Hariandja, Winda 'Ciewind' Alwira,  Fbc Auguste, Markos Y. Kahia, dan Katarina 'Kajol' Elsa.
  3. The participant: Jeshert Riset, Veronika Leong, Stella Alexander, Emmanuella Lassa, Grace 'Gege' Ondey dan Ronald Vicarius Palinda.
  4. Jeshert Riset untuk beberapa foto yang saya upload juga di sini.
  5. Patrick WP untuk SMSnya.
Post a Comment