Sunday, May 19, 2013

RAMMANG-RAMMANG, Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan - Indonesia.

Tiba-tiba telingaku menangkap suara anjing berkokok ... kok...kok...kok (nah lo?!). Loading sejenak, mengumpulkan kesadaran. Kubuka mata dan memandang berkas-berkas sinar dari ventilasi jendela. Pikirku, ini pasti sudah lewat jam 7. Kulirik jam dinding, pkl. 08.43.
“Astaga!”
Teringat pesan di dinding facebook semalam, “Teman-teman, besok jam 09.00 kumpul di pondokan. Kita ke Rammang-Rammang, siapkan … bla-bla-bla”.
“Ah, pasti ngaret …” pikirku  santai.
Dengan langkah gontai aku menuju ruang makan. Sarapan seperlunya (bukan karena takut gendut tapi malas masak) terus mandi, tidak lupa menggosok gigi.
Setelah semua outdoor gear kupacking dalam d-pack, saatnya meluncur ke basecamp. Sampai di sana, tak seorang pun kutemukan!
“%^%$#@%^! Aku pasti ditinggal! Tumben semua tepat waktu. ”
Tanganku segera merogoh hp, menelpon PJ perjalanan hari ini.
“Di  mana ko, Bro?” Tanyaku berapi-api setelah terdengar suara ‘halo’ dari seberang sana.
“Tunggumi. Sa masih ada urusan sedikit ine. Sebentar lagi saya ke situ.”  Katanya innocent.
Kesimpulan dan konsekuensi logis dari percakapan ini jelas:
  1. Aku orang pertama yang datang
  2. Aku harus menunggu sekitar sejam-dua jam.
  3. Perjalanan bakal lelet.
Dan benar saja. Pukul 11 lewat baru kami start. Perjalanan makan waktu sekitar 2 jam meski jarak yang ditempuh hanya sekitar 60-an km. Hal itu disebabkan karena beberapa kali singgah untuk membeli logistik, isi bensin,  menunggu teman, dan nonton tv (apaan?!!!).
Nah, untuk sampai ke Rammang-Rammang, kita harus melewati jalan poros Makassar-Maros dan berbelok di jalan menuju pabrik semen Bosowa (gak tau nama jalannya).

Sekitar 300 meter dari jalan poros, kami menjumpai dermaga kecil. Di atasnya tertulis 'Dermaga Rammang-Rammang'. Rencananya hari ini mau susur sungai (Sungai Pute, namanya) dengan perahu. So, kami bertanya pada yang empunya perahu berapa harga yang harus kami bayar untuk naik ke perahunya. Ternyata, 200rb rupiah per tujuh orang. Sedangkan kami ada 13 orang. Artinya, kami harus membayar 400rb. Mahal (sudah bisa beli carrier 70lt)! Menawar pun gak ada gunanya karena bapak daeng (what?!!) pemilik perahu tak punya belas kasihan.  Maka kami beranjak dari tempat tersebut. Beberapa teman yang sudah mendambakan untuk naik perahu terlihat kecewa namun tetap cemunguttt.

Walau kecewa namun usaha kami untuk menjelajahi kawasan karst Rammang-Rammang belum berakhir. Petualangan masih dilanjutkan meski hujan sudah mulai membasahi bumi. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah. Seorang nenek  kebetulan lagi menikmati sore di berandanya.
"Bu, boleh titip motor di sini?" Tanya Arnold.
"Boleh, Bro." Si Nenek menatap matanya mesra dengan senyum tersungging.
(Hahaha, bagian ini gak usah diperpanjang).
Intinya kami nitip 7 motor di halaman rumah nenek itu.

Melihat rute yang akan dilalui, beberapa dari kami segera "berubah" menjadi Power Rangers, mengganti perlengkapan yang sesuai dengan kondisi medan. Sedangkan yang gak merubah penampilannya adalah mereka yang nggak bawa perlengkapan tambahan (karena berpikir akan naik perahu) atau memang udah tahu medan yang akan dihadapi.

Untuk menuju ke lokasi, kami harus melalui area persawahan yang kelihatannya baru ditanami. Ternyata melewati pematang sawah itu seru karena berkali-kali kami harus mencari jalur yang tepat untuk sampai di tujuan (jadi ingat game 'Labirin' di hp nokia jadul). Pokoknya, semakin banyak pematang di sawah, maka semakin bingung anda mencari jalan.








Aku memimpin dan sempat salah jalan ^____^. Itu karena aku didampingi seorang patih yang gagah perkasa, his name is Matuh. Setiap kali aku tanya, "lewat sini?", jawabannya selalu: "terserah", "bisa", atau "terus saja" meski di depan ada batu besar yang sulit untuk dilewati tanpa karmantel, harnes, carbiner, ascender, dan descender. Semua dijawab dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Sangat bijaksana kelihatannya tapi bukan pilihan yang cerdas.







Beberapa teman yang salah kostum mulai menyesali diri dan memaki-maki. Apalagi ketika dengan terpaksa harus membenamkan kaki ke lumpur sedalam 5cm (sebenarnya post ini aku mau beri judul 5cm session 2). Semakin jauh ke dalam taman karst, semakin tinggi pula air dan lumpur. Dan, baju baru Elsa pun penuh noda bersejarah.




Karena Matuh selalu memberi pendapat yang riskan, aku kemudian menjadikan Patrick sebagai partner karena postur tubuhnya yang bisa dijadikan pelampung, jembatan, atau safety equipment lainnya jika keadaan berubah darurat (sementara yang lain tetap patuh sama Matuh). Kami memilih jalan yang berbeda dan kelihatan lebih save dari air dan lumpur dibanding jalan yang ditempuh teman-teman lain. Itu dikarenakan jiwa petualangan kami memang berbeda (pengaruh wajah, barangkali. Soalnya kami berdua tampan :p).






Namun, akhirnya kami bertemu di pintu sebuah gua kecil yang seperti sebuah prolog menuju dunia baru. Jalan di dalam gua dipenuhi air dan lumpur. Katanya, kalo musim kemarau, daerah ini kering banget. Tetapi sudah dua kali ke sana, aku menjumpai situasi yang sama: becek dan gak ada becak!

Sejak memasuki lokasi ini aku selalu waspada terhadap ular karena tempat seperti ini merupakan tempat berkembang biak yang baik bagi mereka. Tetapi untunglah, selama perjalanan, tak satupun yang memperlihatkan diri dan say 'hi'. Mungkin mereka malu-malu kedatangan makhluk sekeren kami. Kewaspadaanku bukan tanpa alasan. Beberapa kali terlihat semacam membran bekas shedding (ganti kulit) reptil itu pada celah-celah batu. Syukur-syukur kalo hanya ular biasa. Tapi bagaimana kalo ular spesies baru? Misalnya, ular yang bisa melontarkan api? Menurut literatur yang pernah saya baca (judulnya kalo nggak salah, "Fauna Karst dan Gua Maros, Sulawesi Selatan" terbitan LIPI Press), di daerah karst seperti ini memang paling banyak kemungkinan ditemukannya spesies baru dari jenis-jenis hewan yang biasa kita jumpai, seperti udang, ikan, kepiting,dsb.


Setelah melewati gua kita akan menemukan lorong-lorong dan celah-celah yang sempit, tetapi bukan lagi gua karena berupa dinding-dinding batu beratap langit. Tempat ini terlihat seperti di film-film coboy tempo doeloe. Temanku, Ito, pernah menyebutnya 'Grand Canyon'-nya Maros (bisanya pi itu). Bayangkanlah jika ada sekelompok Indian Sioux yang menggulingkan batu ke bawah maka jadilah kami hamburger penyet (tempe penyet, lewat!).



Di tengah keheningan perjalanan, tiba-tiba kami mendengar deru truck dan bunyi batu-batuan. Ternyata, sodara-sodara, kami menemukan sekelompok penambang batu alam yang tidak bertanggung jawab. Mungkin karena mereka dilahirkan tanpa pertanggungjawaban. Mereka merusak taman karst kami. Truck decepticon (yang pernah nonton 'Transformer' pasti tahu)  itu entah datang dari mana yang jelas, dia telah menembus kumpulan bebatuan yang dulunya ada di situ.

Kami berhenti di sebuah tempat yang teduh dari hujan dan panas. Agus mulai membagikan ransum dan kami pun makan bersama seperti sebuah keluarga yang bahagia. Makanan itu sebenarnya enak, tapi karena kami makan dengan tangan yang bersimbah lumpur, jadinya eneg sekali ^__^. So, teman-teman, kalo ke tempat ini wajib bawa sendok, hand sanitizer, dan tissue basah.


 






Abis makan-minum, take some photos, serta packing sampah untuk dibawa pulang dan dibuang di tempat yang seharusnya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini masuk gua lagi dan tak disangka kami menemukan markas Batman dan kediaman Smeagol! It's truly awesome. Tempat ini merupakan lokasi terfavorit aku.



Warning: meskipun Wikipedia bilang kawasan ini terbesar kedua di dunia, namun keseluruhan tempat ini gak rekomended buat mereka yang paranoid sama kaki seribu yang warnanya item, besar, dan tentu saja berkaki banyak. Soalnya di daerah inilah mereka membangun kerajaan dan kuburannya. Juga gak direkomendasikan buat mereka yang takut gelap dan gak bawa headlamp karena di dalam gua gak ada neon.



Setelah melewati gua, tebing, dan sawah, akhirnya kami menemukan jalan desa buatan PNPM Mandiri yang mengarahkan kami ke tempat kami parkir tadi. Jauhnya kira-kira 1 km. Pokoknya Patrik mengeluh sepanjang perjalanan karena tak memakai sendal (sendalnya putus di awal perjalanan, ckckck).

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri singgah ke dermaga Rammang-Rammang, membersihkan badan, berenang, dan paling penting bikin foto profil.





Nah, berikut saya menyajikan hasil jepretan saya tentang tempat yang kami kunjungi hari ini, "The RAMMANG-RAMMANG":







*****

And this is me, the author and the photographer:









----------------------------------------------------------------------------------

I sincerely appreciate your taking time to provide your comments and feedback (by clicking on reactions or rate it). Jangan lupa, join this site

-----------------------------------------------------------------------------------------

PS:
Thanx to:
  1. Keluarga besar Komunitas Pencinta Alam - Pintas, Paroki St. Paulus-Tello Makassar
  2. Member of Group : Maria 'Mariconk' Guhar, Arnold Dp, Patrick WP, Nugraha 'Memet' Hariandja, Winda 'Ciewind' Alwira, Ignatius 'Ndatau' Matuh,  Fbc Auguste, dan Katarina 'Kajol' Elsa.
  3. The participant: Veronika Leong, Kacenya Ciwind dan kekasihnya.
  4. Melky Meko untuk beberapa foto yang saya upload juga di sini.




Post a Comment